SELAMAT DATANG

Monday, March 21, 2011

SEJARAH KOTA ANJUK LADANG (NGANJUK)

berikut penafsiran yang pernah dikemukakan oleh
pakar epigrafi dan sejarah klasik Indonesia,
Pro.Dr.J.G.de Casparis, 34 tahun yang lalu.
".... Pada tahun 928 atau 929 atau satu dua tahun
kemudian pasukan Melayu ialah daerah Jambi yang
patuh kepada Sriwijaya mendarat di Jawa Timur. Pasukan itu sampai dekat Nganjuk, tetapi disana
menderita kekalahan oleh laskar Jawa yang dipimpin
oleh Pu Sindok. Peristiwa yang penting itu kita ketahui
dari sebuah prasasti Sindok yang berangka tahun 937
(?). Prasasti itu mengenai sebatang tugu kemenangan
(Jayastambha) bertempat di Anjuk Ladang, beberapa kilometer sebelah selatan kota Nganjuk yang
sekarang. Peristiwa itu dapat menjelaskan dua soal
yang sebelumnya tidak mendapat penyelesaian yang
memuaskan. Yang pertama mengenai kedudukan Pu
Sindok yang oleh penyelidik lebih dulu dianggap
sebagai teka-teki. Maklumlah karena nama Sindok sudah kita temui dalam beberapa prasasti sebelum
pemerintahannya sebagai seorang pegawai tinggi
(Rakai Halu dan Rakai Hino), tetapi tidak lazim di Jawa
bahwa seorang prabu digantikan oleh menterinya.
Akan tetapi pergantian luasr biasa. Andaikata kita
berpendapat bahwa Sindoklah yang menjadi penyelamat negara selaku panglima perang, maka
dapat dimengerti bahwa tahta kemudian diserhkan
kepadanya."....
" Soal yang lain yang sekarang dapat dimengerti, ialah
sebab perpindahan kraton ke Jawa Timur....Sekarang
ternyata bahwa pemindahan itu dapat kita pahami sepenuhnya. Dalam taraf pertama raja-raja Mataram
lama seperti Balitung sampai dengan Wawa, lebih
mementingkan Jawa Timur daripada Jawa Tengah.
Karena keinsyafan akan pentingnya perniagaan
antarpulau. Dalam taraf yang kedua pemimpin-
pemimpin Jawa memutuskan hanya akan membela bagian kerajaan yang dipentingkan itu. Lembah
rendah sungai barat dari itu termasuk Jawa Tengah
dibiarkan saja" (J.G.Casparis, 1958).
Hipotesa yang menggambarkan Prasasti Anjuk
Ladang sebgaai suatu monumen kemenangan
terhadap serangan musuh secara langsung tidak didukung oleh prasasti itu sendiri. Apalagi jika
dikaitkan dengan jasa Pu Sindok sebagai penyelamat
dan panglima perang, yang menjadikan ia
dipromosikan sebagai raja. Ketika Sindok
memerintahkan untuk menetapkan Watek Anjuk
Ladang sebagai desa Swantantra, dalam kalimat : "????.sawah kakatikan iyanjukladang tutugani tanda
swatantra", sehingga desa itu bebas dari pajak, ia
telah menjadi raja selama 8 tahun. Dengan kata lain
jika memang terbukti sima anjuk lading itu ada
hubungannya dengan balas budi Sindok kepada
penduduk watek Anjuk Ladang, ketika masih memangku jabatan Rakai Mapatih atau rakai Halu
atau Hino, prasasti manakah yang memberikan
keterangan tentang kemenangan terhadap musuh
Sriwijaya itu? Tampaknya prasasti Kinawe dari raja
Wawa (926-929) yang berasal dari daerah Berbek
tidak memberi dukungan hipotesa tersebut. Suatu data yang tidak diragukan adalah adanya
hubungan antara penetapan swatantra kepada
kepala desa (Rama) di Anjuk Ladang itu, dengan
sebuah bangunan suci seorang tokoh yang cukup
penting yaitu : bhatara I sang hyang prasada
kabaktyan I dharma sngat pu anjukladang atau sangat anjuk lading. Bangunan suci itu juga disebut :
sang prasada kabaktyan I sri jayamarta?.. Sima
pumpunana bhatara (baris 6 dan 8). Sedangkan
bangunan tugu kemenangan terdapat dalam kalimat :
"sang hyang prasada ateherang jayastama." (14).
Dengan singkat dapat dikatakan bahwa nama desa Anjuk Ladang berkaitan dengan pejabat Watek, Rama
dan Samgat, serta bangunan suci Sri Jayamrata,
barangkali sebuah Patirtan yang terletak tidak
jauhdari Candi Lor sekarang. Ataukah bangunan yang
disebut "sang hyang prasada kabaktyan I dharma
samgat pu anjukladang" itu, pada abad X tidak lain Candi Lor sekarang. Di tempat candi itu berdiri terletak
desa Candirejo, di situlah tahun 1913, ditemukan
sejumlah patung perunggu yang menggambarkan
pantheon Budhisme Mahayana, dari sekte yang khas
mengungkapkan tradisi kerajaan setempat. (ROD
1913:59 gambar nomor : XII-XXIII). Penemuan arkeologis di sekitar desa Candirejo tempat Candi Lor
itu berdiri, membuktikan bahwa di tempat itulah pada
abad X merupakan Watek Anjuk Ladang, tempat
berdirin a bangunan suci sang hyang prasada
kabaktyan I anjukladang, yang tertulis dalam baris 27
prasasti Candi Lor itu. Nama itu hidup terus sejak 10 abad lalu dan dalam perjalanan sejarah tetap lestari
meskipun dalam ucapan yang telah berubah. HARI JADI NGANJUK : 10 APRIL 937
Dari kajian yang etrurai pada bagian muka, berikut ini
diberikan beberapa tesis yang sekaligus merupakan
kesimpulan untuk dijadikan landasan berpijak dalam
penentuan Hari Jadi Nganjuk.
1. Ada tiga sumber epigrafis yang ditemukan didaerah Kabupaten Nganjuk sekarang, yaitu :
Prasasti Kinawe dari Tanjung Kalang, Prasasti Hering
dari Kujon Manis, Warujayeng dan Prasasti
Anjukladang dari desa Candirejo.
Prasasti Kinawe merupakan sumber tertulis paling
tua yang ditemukan di daerah Kabupaten Nganjuk, yang memuat nama Sri Maharaja Wawa. Prasasti ini
diumumkan bertepatan dengan tahun Masehi, hari
Kamis Wage, bulan November 928. Walaupun prasasti
ini termasuk sumber tertulis paling tua yang
dikeluarkan oleh ibunya Dyah Bingah, tidak memuat
data yang dapat dihubungkan dengan sejarah pemerintah Kabupaten Nganjuk secara langsung.
Didalamnya memuat pembebasan Desa Kinawe dari
pungutan pajak, serta mendapat hak sebagai desa
Sima. Didalamnya juga memuat nama Pu Sindok Sri
Isana Wikrama sebagai rakryan Mapatih, pada masa
pemerintahan Sri Maharaja Wawa. Prasasti ini tidak mengungkapkan peranan Pu Sindok, sebagai
panglima diisyaratkan dalam hipotesa Prof.J.G.de
Casparis (de Casparis, 1958). Atas dasar kenyataan itu
prasasti ini tidak dapat dijadikan landasan yang kuat
untuk dipilih sebagai hari jadi Kabupaten Nganjuk. 2. Prasasti Hering, dari Kujon Manis daerah
Warujayeng, Nganjuk timur. Prasasti ini dikeluarkan
pada hari Kamis Wage, 22 Mei 934, oleh Sri Maharaja
Pu Sindok Sri Isanawikrama Dharmmotunggadewa,
berisi antara lain tentang jual beli tanah sawah.
Dalam sumber tertulis inipun tidak menyebutkan toponimi yang secara langsung dapat dikaitkan
dengan nama Nganjuk, baik sebagai nama wilayah
maupun nama pusat pemerintahan yang
berhubungan dengan Kabupaten Nganjuk sekarang.
Nama Hering, Marganung, Kadangan, Hujung,
walaupun nama tersebut mungkin sama dengan keringan, Ganung , Kandangan dan Ngujung, namun
kurang memenuhi criteria sebagai sumber untuk
dijadikan dasar penemuan Hari Jadi Nganjuk.
3. Prasasti Anjuk Ladang, dari kompleks reruntuhan
Candi Lor, desa Candirejo, merupakan sumber tertulis
tertua yang memuat toponimi Anjukladang sebagai satuan territorial Watek, yang dikepalai seorang
Samgat dan seorang Rama. Prasasti ini dikeluarkan
oleh Sri Maharaja Pu Sindok Isanawikrama
Dharmmotunggadewa, serta nama para pejabat tinggi
kraton maupun pejabat daerah. Prasasti ini memuat
desa Anjukladang yang dianugerahi status otonomi atau swantantra serta daerah yang Anjukladang
sebagai perdikan, dikaitkan dengan pemeliharaan
bangunan suci bernama: Sang Hyang Prasada
Kabaktyan I Sri? Jamrata I Anjuk Ladang. Disamping
itu juga dikaitkan dengan suatu monumen
kemenangan, berupa Jayastamba. Prasasti Candi Lor ini dibandingkan dengan prasasti
Kinawe dan Hering, lebih memiliki nilai histories dan
arkeologis, karena memuat nama desa Anjukladang,
yang dalam perkembangan sejarah di daerah itu
selama 10 abad masih tetap bertahan, walaupun
telah mengalami perubahan ucapan. Namun tidak dapat disangkal, bahwa ada kedekatan yang
menunjukkan kedekatan ucapan dengan nama
Nganjuk.
Berdasarkan data epigrafis itu, tahun penetapan
anugrah watek Anjukladang, sebagai desa swatantra
dapat dipilih untuk Hari Jadi Nganjuk. Menurut unsure penanggalannya, maka tanggal 12 bulan Citra,
Krsnapaksa. HA PO SO, bertepatan dengan tahun
Masehi: 10 April 937. Itulah tanggal yang sesuai dan
layak sebagai Hari Jadi Nganjuk.
ASAL MULA NAMA NGANJUK Menurut cerita rakyat yang masih hidup di kalngan
penduduk setempat, bahwa desa tempat didirikannya
Candi Lor dahulu bernama Desa Nganjuk, yang berasal
dari kata ANJUK. Tetapi setelah Nganjuk dipergunakan
untuk nama daerah yang lebih luas, maka nama desa
tersebut diubah namanya menhadi "Tanggungan". Tanggungan berasal dari kata
"Ketanggungan" (Jawa:mertanggung). Istilah ini
mengandung makna, bahwa nama Nganjuk tanggung
untuk digunakan sebagai nama dari desa tersebut
karena sudah digunakan nama bagi daerah yang
lebih luas. Oleh karena itu sudah tidak berarti lagi (tanggung atau mertanggung) desa sekecil itu disebut
Nganjuk.
Mengenai arti dan makna dari kata : Anjuk Ladang,
Prof.Dr.J.G.de Casparis menjelaskan sebagai berikut :
Anjuk : Berarti tinggi, tempat yang tinggi atau dalam
arti simbolis adalah : mendapat kemenangan yang gilang gemilang.
Ladang : Berarti tanah atau daratan.
Dari latar belakang sejarah dapat diinterpretasikan
bahwa Nganjuk dahulu diambil dari nama sebuah
tempat atau desa : Anjuk Ladang. Kemudian, karena
memiliki nilai sejarah tentang kepahlawanan prajurit- prajurit dibawah kepemimpinan Pu Sindok dapat
menaklukkan bala tentara dari kerajaan Sriwijaya,
maka kemudian "Nganjuk" diabadikan sebagai nama
daerah/wilayah yang lebih luas dan tidak hanya
nama sebuah desa kecil, yakni Kabupaten Nganjuk
yang sekarang ini. Nganjuk yang diambil dari kata Anjuk berarti "Kemenangan dan Kejayaan".
sumber : http://www.anjukladang.info/ Sumber : pckuonline.co.cc/index.php

No comments:

Post a Comment

Post a Comment